Suatu pagi di musim yang, entah mengapa, tak
pernah cerah. Kau duduk di sampingku menatap jauh.
Aku pun tak berani menatapmu. Kita berbicara dalam
bisu, memaknai perasaan masing-masing hingga
akhirnya kau berkata.
“Cinta itu enggak sakit. Ketika itu sakit, itu bukan cinta
lagi gus. Tolong mengerti.” Katamu lirih.
“Dan sekarang kamu sakit?” tanyaku padamu.
“Maaf. Ingin sekali aku mengatakan tidak.” Jawabmu
pelan, tapi cukup membuat hati ini menyatu dengan
mendung yang menghiasi langit.
Dari ratusan ketidakpastian, setidaknya ada dua hal
yang pasti. Satu, kita saling mencintai dan dua kita
sangat berbeda, atau bertolak belakang –seperti kata
yang tidak bosan-bosannya kau utarakan padaku-
Utara dan Selatan. Aku pun sadar bahwa suatu saat
kita akan berpisah karena perbedaan itu, dan ini tidak
akan mudah bagi kita, atau salah satu di antara kita
berdua. Sayangnya, option kedua terwujud. Ini tidak
mudah bagi salah satu di antara kita. Lebih
disayangkan lagi, ini tidak mudah bagiku. Tidak perlu
lagi ku katakan padamu bagaimana tepatnya kata
“tidak mudah” itu terdefinisi. Kamu sudah sangat
mengerti isi kepalaku, bukan? I’d show you how I feel,
without saying a word.
Sampai sekarang, aku masih merasakan rasa sakit.
Apakah ini artinya aku sudah tidak cinta? Tapi
mengapa kamu masih ada di mana-mana. Di antara
cerita teman, di semua buku, di setiap malam, di lirik
lagu, bahkan di setiap saat ketika otakku berhenti
bekerja. Setiap kali aku mencoba mengenyahkannya,
dia kembali tumbuh. Setiap kali aku berusaha
berjalan dengannya, ia tambah menjadi-jadi. Tenang,
ini bukan salahmu. The problem is not with you, it’s
without you. Ini salahku. Atau, salah Hera juga.
Mungkin kamu benar, ini bukan cinta. Mungkin juga
kamu salah.
Kamu sangat mencintai novel. Tak terhitung berapa
banyaknya yang kau simpan, yang sudah kamu baca.
Itu wajar karena kamu mencintainya. Suatu hari,
kamu bercerita bahwa kamu pernah membaca novel
sampai lupa waktu. Matamu sudah sakit, dan
perutmu merintih belum makan apapun sejak pagi.
Dan saat itu sudah lewat siang hari.
Atau, kamu yang otaku menonton manga hingga
matamu berair dan minus yang kamu sembunyikan
tambah parah. Atau, es yang sangat kau gemari. Kau
akan menawar padaku agar membelinya lebih sering.
Tapi, itu akan membuat amandelmu lebih parah.
Coba pikirkan, kamu mencintainya kan? Tapi itu sakit.
Jadi mencintai itulah mampu menerima sakit ketika
perasaan itu benar-benar cinta. Saat ini, kamu
mengkhianatiku dan berpaling. Itu bukan cinta. Jadi
ketika sakit, kamu tidak akan mengakui cinta. Tapi,
perasaanku jauh lebih dari sekadar cinta. Ketika itu
sakit aku tidak tahu harus berbuat dan berkata.
Karena, kau pun tahu mencintai itu adalah merasa
sakit ketika suatu hal yang tak dikehendaki terjadi.
Cerpen Karangan: Gede Agus Andika Sani
Blog: babibubebong.blogspot.com/Sani Agus
Gede AGus Andika Sani adalah penggemar cerpen.
Bersekolah di SMAN Bali Mandara. Salah satu hal
yang dipegang teguh, cerpen melambangkan kondisi
penulis.
Total Visits: 51539230
Visits Today: 45528
This Week: 2040991
This Month: 3533676